jateng.jpnn.com, SEMARANG - Sudah sepuluh hari, Yadi tidur di tenda pengungsian. Beralaskan lihap, pria 40 tahun ini harus menahan dingin malam.
Supriyadi, nama lengkapnya, dia tak tahu nasibnya akan seperti ini. Rumahnya roboh setelah terdampak tanah bergerak.
Warga Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, RT 007 RW 001, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang ini masih ingat betul kepanikan.
Saat itu, Rabu (4/2) malam, rumahnya roboh. Getaran disertai suara gemuruh membelah tanah di atas rumahnya.
"Ada suara krek-krek, lalu rumah saya roboh," kata Yadi kepada JPNN.com, Jumat (13/2).
Beruntung, kala itu, Yadi, istri dan dua anaknya selamat dari maut. Dia bilang, kalau tidak segera keluar rumah akan tertimpa material bangunan yang tersusun dari kayu dan papan itu.
Rumah Yadi roboh sendiri, sedangkan tiga rumah lainnya terpaksa dirobohkan demi keselamatan warga. Pasalnya, tanah sudah retak menganga.
"Barang-barang hanyut sebagian," ujarnya.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518312/original/099191500_1772505014-persebaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340249/original/020406300_1757162119-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-008.jpg)
















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5359039/original/080560000_1758618147-20250923BL_Konpers_Menpora_Erick_Thohir_Mengenai_Langkah_Penyempurnaan_Regulasi_Kepemudaan_dan_Keolahragaan_8.JPG)
