jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah terus memicu sorotan publik. Perkara ini mencuat setelah penyidik Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri menyita barang bukti fantastis berupa 74,01 kilogram emas batangan serta uang tunai ratusan miliar rupiah dalam pecahan berbagai mata uang asing dari beberapa lokasi penggeledahan.
Besarnya nilai barang bukti tersebut memicu pertanyaan mendasar terkait integritas aparat penegak hukum (APH), mengingat dugaan penyelewengan ini justru terjadi di dalam tubuh lembaga penyidik kasus korupsi.
Menanggapi isu tersebut Guru Besar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Gabriel Lele menilai bahwa kasus ini mencerminkan rapuhnya desain kelembagaan penegakan hukum di Indonesia. Menurutnya, penumpukan kewenangan tanpa mekanisme pengawasan yang imbang menjadi celah masuknya praktik penyalahgunaan kekuasaan.
“Ini tentang lembaga yang diberi kewenangan untuk memberantas korupsi, tetapi justru berada pada episentrum korupsi. Ketika terjadi penumpukan kewenangan pada satu institusi tanpa kontrol yang memadai dari lembaga lain, terutama dari publik, maka kewenangan itu bisa sangat mudah disalahgunakan,” ujar Gabriel, Selasa (21/7).
Ia menegaskan pentingnya prinsip saling kontrol bagi institusi sekelas Jampidsus yang memegang wewenang besar dalam mengusut kasus korupsi berskala besar.
Mengenai pelimpahan perkara ini kembali ke pihak Kejaksaan Agung, Gabriel menilai langkah tersebut sarat dengan hambatan psikologis maupun kelembagaan, mengingat perkaranya menyangkut mantan pejabat tinggi di institusi tersebut.
Gabriel menganggap langkah pelimpahan ini tak lebih dari sekadar strategi penenangan situasi.
Langkah ini justru menjadi ujian berat bagi Kejaksaan untuk membuktikan transparansinya saat memproses mantan petingginya sendiri.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547080/original/023840800_1775443474-1000826480.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5536828/original/015894100_1774345041-20260324IQ_Latihan_Timnas_Indonesia_FIFA_Series-3.jpg.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546952/original/044881700_1775395921-bfc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546978/original/025654500_1775399103-WhatsApp_Image_2026-04-05_at_19.51.29.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5542804/original/067279900_1774959975-Elkan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470992/original/006839600_1768273022-cremonese.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390134/original/058928300_1761231698-teja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541752/original/079844000_1774890887-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5484120/original/030378900_1769413889-20260126AA_Konferensi_Pers_AFC_Futsal-06.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4846449/original/071327300_1716970316-083A1107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124725/original/012562100_1738900750-Snapinst.app_469631839_1277354356876290_8996091991068552124_n_1080.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348128/original/056093900_1757768912-Persijap-Fokus-Penuh-Tatap-Laga-Lawan-Arema-FC-1756347109.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536895/original/005142200_1774348762-5.jpg)



