Dahlan Iskan: Amerika Merasa sudah Miskin

1 day ago 11
 Amerika Merasa sudah Miskin Dahlan Iskan. Foto: dok. pribadi

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Tokoh pers nasional Dahlan Iskan menilai bahwa Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump merasa sudah miskin.

“Negara terkaya itu rupanya merasa sudah miskin. Dalam istilah Trump Amerika sudah seperti negara ketiga. Kalah oleh Tiongkok –yang dulu negara amat miskin. Tentu yang dimaksud adalah kemajuan infrastrukturnya,” tulis Dahlan Iskan di Disway berjudul Renovasi Rumah, Jumat (4/4/2025).

Dahlan Iskan merespon kebijakan Presiden Trump yang kini menggemparkan dunia. Yaitu soal pengenaan tarif baru bea masuk barang ke Amerika. Dengan kebijakan Trump itu Indonesia bakal kena kenaikan tarif 32 %.

“Apakah pengenaan tarif baru bea masuk barang ke Amerika bisa membuatnya kembali menjadi negara paling kaya?,” tulis Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan mengibaratkan Trump sedang ingin merenovasi rumah baru. Untuk mengembalikan kejayaan Amerika Serikat.

“Ada istilah baru: MAWA. Make America Wealthy Again. Itu diucapkan oleh Presiden Donald Trump di ''pidato hari kemerdekaan'' Amerika Serikat kemarin subuh WIB,” tulis Dahlan.

Make America Wealthy Again artinya: Jadikan Amerika Kaya Lagi

”Waini MAGA seperti rumah yang punya kamar di lantai dua: MAWA. Itulah tujuan kebijakan Trump yang menghebohkan dunia. Tidak hanya untuk Make Amerika Great Again. Tapi juga kembali kaya,” tambah Dahlan Iskan yang mantan Menteri BUMN.

“Itulah yang jadi perbincangan akademis. Awalnya ide Trump itu hanya dianggap gertak sambal. Tidak sampai membuat ada yang menghitung dampak terinci dari kebijakan itu. Tapi dengan kepastian yang dilakukan Trump kemarin, seluruh dunia kini sibuk berhitung,” ulas Dahlan Iskan.

Menurut Dahlan, dampak jangka pendek bagi Amerika jelas: ibarat Anda merenovasi rumah.

“Anda akan merasakan suasana yang sangat tidak nyaman. Beberapa bagian rumah dirusak. Suara palu berdentang. Berisik gergaji mendenging. Kamar tidur Anda pun berdebu. Air kran bocor. Tanaman dan bunga ketimpa reruntuhan,” tulis wartawan kondang itu.

Kelak, lanjut Dahlan, setelah rumah Anda selesai direnovasi, barulah Anda terlihat lebih kaya: rumah lebih besar. Lebih bagus. Lebih nyaman.

”Itu kalau renovasinya sukses. Ada renovasi rumah yang memakan waktu sampai tiga tahun. Masa jabatan pun keburu habis. Bahkan ada renovasi yang berhenti di tengah jalan: kehabisan biaya. Atau bertengkar dengan kontraktornya,” tambah Dahlan Iskan.

Menurut Dahlan Iskan, para petani Amerika bisa tergolong yang waswas. “Sejak perang dagang dengan Tiongkok banyak petani sudah di ambang bangkrut. Harga hasil pertanian jatuh. Tiongkok lebih memilih impor kedelai dari Brasil,” tulis Dahlan lagi.

”Waini, ''rumah'' para petani itu harus direnovasi. Yang merenovasi Trump. Mereka tidak menanggung biaya renovasi tapi merasakan ketidaknyamanannya. Apalagi kalau di tengah renovasi kelak, terjadi perkembangan baru: renovasi berhenti sebelum selesai,” tambahnya.

Di industri besar, tulis Dahlan, yang terjadi bukan renovasi. “Mereka seperti akan membangun rumah baru. Sangat besar. Sangat mahal. Padahal mereka sudah punya rumah yang lama yang tidak jelek,” tulisnya mengibaratkan.

Untuk mengulas bahwa membangun ''rumah'' baru seperti itu mereka akan berhitung lebih panjang. “Terutama dampak jangka panjangnya. Trump memang selalu membanggakan arus masuk investasi baru ke Amerika. Dari Hyundai, Honda, Apple, Chips, dari Taiwan, dan banyak lagi. Bertriliun-triliun dolar. Mereka akan membangun pabrik-pabrik raksasa di Amerika. Trump mengatakan mereka akan sangat bahagia karena tidak perlu lagi membayar bea masuk,” lanjut Dahlan Iskan.

Tapi ''kepastian jangka panjang'' akan menjadi dasar perhitungan mereka. “Sebelum benar-benar membangun pabrik mereka akan melakukan kajian: apakah kebijakan tarif tinggi itu akan permanen. Atau suatu saat akan berubah,” tulis Dahlan Iskan.

”Misalkan: tiba-tiba Kanada atau Meksiko menurunkan bea masuk. Apakah Amerika tidak berubah. Bahkan, misalkan empat tahun lagi bukan Trump yang jadi presiden. Bagaimana nasib investasi mereka,” tambah Dahlan Iskan.

Sikap gamang mereka itu, menurut Dahlan, sangat berpengaruh terhadap harga saham di pasar modal.

“Suasana ''wait and see'' seperti itulah yang membuat harga saham di pasar modal mereka melemah. Mereka menunggu kepastian yang lebih pasti,” tulis Dahlan.

Menurut Dahlan Iskan, sejarah mengapa Amerika menjadi negara kaya bukanlah karena di zaman dulu mengenakan tarif tinggi untuk barang impor.

”Amerika menjadi kaya karena diisi oleh imigran dari Eropa yang bekerja amat keras karena ingin kaya. Kalau mayoritas penduduknya ingin kaya negara akan menjadi kaya,” tulisnya.

Read Entire Article
Kabar berita |