Dukungan Gus Gudfan Untuk Maju Sebagai Caketum PBNU Terus Bermunculan

1 week ago 8

Dukungan kepada Gus Gudfan untuk maju sebagai caketum PBNU terus mengalir. Dok: source for JPNN.

jpnn.com, JAKARTA - Di tengah hingar-bingar bursa calon ketua umum pengurus besar nahdlatul ulama (PBNU), sebuah nama terus bergema dengan frekuensi yang berbeda, yakni Gus Gudfan Arif Ghofur.

Bukan karena orasi politiknya yang menggema di panggung-panggung besar. Bukan pula karena manuver-manuver taktis yang biasa mewarnai peta perebutan kekuasaan. Justru karena keheningannya. Karena caranya yang tidak berteriak, tidak mencari sorotan, tidak pula sibuk mengklaim dirinya sebagai "juru selamat umat."

Dari keheningan itulah, gelombang dukungan dari lintas generasi dan lintas elemen NU terus bermunculan. Dari kiai sepuh yang hafal sanad keilmuan hingga santri milenial yang fasih berselancar di dunia digital.

Dari Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), hingga badan otonom seperti Fatayat, Ansor, IPNU, dan Pagar Nusa. Semua bergerak. Bukan atas instruksi. Bukan karena iming-iming jabatan. Tetapi karena naluri kebersamaan yang sudah lama tertidur itu kembali tersentak: bahwa NU butuh pemimpin yang merawat, bukan merusak; yang mengayomi, bukan mengklaim.

Di era politik identitas yang cair dan ambisi kekuasaan yang sering kali membabi buta, Gus Gudfan hadir sebagai antitesis. Dia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mendekorasi dirinya dengan atribut keagungan palsu. Di pesantren, dia santri biasa. Di tengah para kiai, dia murid yang mendengar. Di hadapan rakyat kecil, dia bukan siapa-siapa.

Bandingkan dengan mereka yang haus kekuasaan, yang rela mengorbankan prinsip demi kursi, yang mengubah musyawarah menjadi ajang jual-beli suara, yang menjadikan NU sebagai kendaraan pribadi menuju singgasana.

Di sana, Gus Gudfan adalah potret lain. Ia datang bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi. Bukan untuk dihormati, tapi untuk mengabdi. Bukan untuk didengar, tapi untuk mendengar.

Fenomena yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir adalah menjamurnya figur-figur yang lebih mencintai panggung daripada organisasi. Mereka hadir di setiap acara, berfoto di setiap kesempatan, berpidato di setiap momen. Tapi ketika organisasi sedang sakit, ketika umat sedang resah, ketika pesantren kekurangan, mereka menghilang.

Dukungan kepada Gus Gudfan untuk maju menjadi calon ketua umum PBNU terus mengalir.

Read Entire Article
Kabar berita |