Laba Turun 50 Persen, CHIP Tetap Tebar Dividen Rp1,43 per Saham

6 hours ago 3

PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar di Hotel Aston Priority, TB Simatupang, Jakarta, Senin (29/6). Foto: Fathan

jpnn.com, JAKARTA - PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp1,43 per lembar saham dari laba bersih tahun buku 2025, setara dengan 25 persen dari total laba bersih perseroan. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar di Hotel Aston Priority, TB Simatupang, Jakarta, Senin (29/6). Langkah ini menjadi sinyal komitmen manajemen dalam menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan ekonomi global.

Direktur Keuangan CHIP, Hasri Zulkarnaen, mengakui bahwa kinerja perseroan pada 2025 menghadapi hambatan signifikan akibat pelemahan daya beli domestik dan gejolak geopolitik dunia. Laba bersih perusahaan turun hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp4 miliar, dari yang sebelumnya mencapai Rp8 miliar.

"Penjualan juga mengalami penurunan, meskipun arus kas operasional perseroan masih tercatat positif sebesar Rp1,2 miliar. Walaupun laporan kita tahun 2025 dengan adanya geopolitik dan ekonomi Indonesia yang juga sedang mengalami penyesuaian, kita komitmen konsisten untuk pembagian dividen di tahun 2025," ujar Hasri dalam paparan publik.

Dari sisi neraca, total aset CHIP pada 2025 tercatat sekitar Rp115 miliar, sedikit meningkat dari Rp113 miliar pada 2023. Perseroan juga berhasil menekan rasio utang, dengan current ratio mencapai tiga kali lipat kewajiban jangka pendek dan debt to equity ratio di angka 69 persen. Rasio liabilitas terhadap aset berada di level 41 persen, yang mencerminkan struktur keuangan yang masih terjaga sehat.

RUPST juga menyetujui pengalokasian Rp200 juta ke dana cadangan sesuai ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, penetapan honorarium direksi dan komisaris dengan kenaikan tidak melebihi 10 persen dari tahun lalu, serta penunjukan kantor akuntan publik yang akan ditindaklanjuti oleh Komite Audit, Remunerasi, dan Nominasi.

Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melonjak 20 hingga 30 persen dalam tiga sampai empat bulan terakhir, CHIP mengambil langkah mitigasi dengan memperbesar stok bahan baku untuk jangka tiga sampai enam bulan ke depan. Strategi ini memungkinkan perseroan mengamankan harga sebelum kenaikan dolar berlaku penuh.

Selain itu, pendapatan ekspor dalam mata uang dolar dari pelanggan Zambia Telecom turut memberikan efek lindung nilai alami terhadap pembelian bahan baku impor. Dengan adanya penjualan ekspor, Zambia itu membantu kami juga. Karena kan dolar naik, otomatis kita ada keuntungan foreign exchange. "Artinya bisa substitusi silang antara penjualan ekspor sama pembelian bahan baku," jelas Hasri.

Direktur Utama CHIP, Ardarini, menyebut perseroan kini tengah menjajaki kontrak dengan agen bisnis di Nigeria sebagai langkah ekspansi lanjutan di benua Afrika, menyusul keberhasilan kemitraan dengan Zambia Telecom. Perseroan menargetkan dapat menambah dua negara baru pada 2027. Produk eSIM yang dikembangkan disebut sebagai salah satu unggulan yang akan dipasarkan ke pasar Afrika, seiring dengan dorongan regulasi pemerintah di berbagai negara yang mewajibkan penggunaan eSIM demi alasan keamanan data.

CHIP bagikan dividen Rp1,43 per saham meski laba turun 50 persen. Ekspansi ke Nigeria dan produk eSIM jadi strategi hadapi tekanan global.

Read Entire Article
Kabar berita |