jpnn.com, JAKARTA - Pakar ekonomi makro dan analis pasar modal, Ferry Latuhihin menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati angka Rp18.000, bukan semata-mata dipicu faktor geopolitik global.
Menurut Ferry, faktor domestik memegang peranan jauh lebih besar dalam menekan mata uang nasional saat ini.
Ferry mengungkapkan keraguannya terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia, setelah mencermati data defisit anggaran pada kuartal pertama yang mencapai Rp240 triliun.
Meskipun pemerintah mengeklaim defisit menyusut menjadi Rp160 triliun pada April, dia menilai angka tersebut tidak mencerminkan stabilitas yang sebenarnya.
“Iya, faktornya lebih banyak selain faktor domestik ya, ekonomi kita reot, fiskal kita nih dipertanyakan bisa sustain apa enggak," kata Ferry saat dihubungi Jpnn.com.
Ferry menekankan pembayaran pajak yang masuk pada April tidak bisa dijadikan tolok ukur reguler.
Mengingat bulan tersebut bagian dari penerimaan kuartal kedua, bukan hasil kinerja bulanan yang stabil.
Dia menilai ketidakpastian fiskal ini yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlangsungan ekonomi nasional.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518312/original/099191500_1772505014-persebaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547080/original/023840800_1775443474-1000826480.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5536828/original/015894100_1774345041-20260324IQ_Latihan_Timnas_Indonesia_FIFA_Series-3.jpg.jpeg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364338/original/054791800_1759066919-Borneo_FC_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5518239/original/013028600_1772493872-Latihan_Persija-8.jpg)

