1 Juta Sarjana Menganggur di Tengah Disrupsi Teknologi

5 hours ago 4

Selasa, 11 Agustus 2026 – 13:00 WIB

1 Juta Sarjana Menganggur di Tengah Disrupsi Teknologi - JPNN.com Jogja

Ilustrasi - Masyarakat mengantre di Job Fair 2026. Foto: Antara

jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Tingginya angka pengangguran lulusan muda di Indonesia menjadi alarm serius bagi sistem pendidikan nasional. Di tengah derasnya arus otomatisasi dan disrupsi teknologi, kemampuan dunia usaha dalam menyerap tenaga kerja belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja baru.

Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Mei 2026, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana, mulai dari Sarjana Terapan, S-1, S-2, hingga S-3 telah mencapai 1.033.182 orang.

Angka tersebut menyumbang sekitar 14,31 persen dari total penduduk usia kerja yang menganggur di Indonesia, yang kini menembus 7,22 juta orang.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) R. Agus Sartono mengatakan tingginya angka pengangguran terdidik ini makin terasa nyata saat perekonomian nasional dibayangi ketidakpastian.

Menjelang penyampaian Pidato Pengantar Nota Keuangan 2027 oleh presiden, pemerintah dihadapkan pada tantangan pelemahan rupiah, praktik illegal mining, hingga illegal business.

“Kewaspadaan diperlukan di tengah ancaman gelombang PHK akibat otomatisasi dan disrupsi teknologi,” ujar Agus pada Selasa (11/8/2026).

Menurut Prof Agus, masalah utama berakar pada ketidakseimbangan pasokan lulusan dengan daya serap pasar kerja.

Lulusan SLTA atau sederajat setiap tahun terdapat 3,7 juta lulusan SMA, SMK, dan MA. Dari jumlah tersebut, hanya 1,9 juta yang melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara 1,6 juta orang langsung berburu lapangan kerja.

Angka pengangguran di Indonesia dari berbagai latar belakang pendidikan saat ini menembus angka 1 miliar.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News

Read Entire Article
Kabar berita |