96 Dapur SPPG Diperiksa DLH Tulungagung, Mayoritas IPAL Bermasalah

7 hours ago 3

Selasa, 11 Agustus 2026 – 12:37 WIB

96 Dapur SPPG Diperiksa DLH Tulungagung, Mayoritas IPAL Bermasalah - JPNN.com Jatim

Plt Kepala DLH Kabupaten Tulungagung, Anang Pratistianto. ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi

jatim.jpnn.com, TULUNGAGUNG - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung menemukan mayoritas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum memenuhi standar. Temuan tersebut diketahui setelah DLH melakukan inspeksi terhadap sejumlah dapur SPPG untuk memastikan pengelolaan limbah dapur tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

Plt Kepala DLH Kabupaten Tulungagung Anang Pratistianto mengatakan pemeriksaan dan sosialisasi kepada pengelola SPPG terus dilakukan.

"Kami setiap hari terus memberikan sosialisasi dan melakukan pemeriksaan IPAL di setiap SPPG di Tulungagung," kata Anang, Senin (11/8).

Hingga kini, DLH Tulungagung telah memeriksa 96 dari total 129 dapur SPPG yang tersebar di wilayah tersebut.

Dari hasil pemeriksaan, persoalan yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan kapasitas IPAL yang belum mencukupi untuk menampung dan mengolah limbah dari aktivitas dapur. Atas temuan tersebut, DLH meminta pengelola SPPG menambah kapasitas IPAL agar pengolahan limbah dapat berjalan secara optimal dan memenuhi ketentuan kelayakan lingkungan.

Selain melakukan pemeriksaan lapangan, DLH juga memberikan arahan kepada pengelola SPPG yang fasilitas pengolahan limbahnya belum sesuai standar. Petugas rata-rata melakukan inspeksi terhadap tiga hingga empat SPPG setiap hari.

"Selain inspeksi lapangan rutin di tiga hingga empat lokasi per hari, kami juga memanggil pihak SPPG untuk kami beri arahan di kantor DLH," ujarnya.

Dari 96 dapur SPPG yang telah diperiksa, sebanyak 24 pengelola telah menyerahkan laporan perbaikan IPAL kepada DLH. Namun, laporan tersebut masih dalam tahap verifikasi.

DLH Tulungagung memeriksa 96 dari 129 dapur SPPG. Mayoritas IPAL ditemukan belum memenuhi standar, terutama karena kapasitas pengolahan limbah kurang.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News

Read Entire Article
Kabar berita |