jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pagar kayu dan seng yang terpancang tegak sejak 12 Agustus 2026 resmi mengunci jalan setapak menuju Pantai Watu Bolong, Gunungkidul. Jalur selebar satu meter yang dibangun swadaya oleh masyarakat itu tidak bisa lagi dilintasi oleh kendaraan roda dua.
Bagi Yulianto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Watu Bolong, bentangan kayu dan seng itu bukan sekadar penutup jalan, tetapi simbol perampasan ruang hidup puluhan masyarakat lokal yang setiap hari mencari nafkah di Pantai Watu Bolong.
Yulianto meyakini bahwa pengelola objek wisata On The Rock adalah pihak yang telah menutup akses jalan tersebut. Sejak diresmikan pada Desember 2025, warga diminta hengkang karena Pantai Watu Bolong akan dikembangkan untuk memperluas kawasan objek wisata eksklusif tersebut.
"Kanan dan kiri jalan memang tanah milik warga yang dahulu dijual kepada investor. Namun, warga hanya menjual lahan, bukan jalannya. Jalan masuk itu tidak pernah dijual karena itu akses vital kami ke laut," kata Yulianto kepada JPNN, Kamis (20/8).
Penutupan akses itu berdampak pada puluhan kepala keluarga yang berdagang dan mencari hasil laut di Pantai Watu Bolong. Pedagang lokal harus memikul dan melangsir barang dagangan dengan berjalan kaki. Padahal, sebelumnyamereka bisa langsung membawa barang dagangan hingga ke warung menggunakan sepeda motor.
Begitu pula dengan nelayan yang mencari ikan, rumput laut, dan kerang. Kini harus memikul karung-karung berat hasil laut menyusuri pantai. Akses kendaraan yang ditutup mengharuskan mereka mengeluarkan tenaga ekstra untuk sekadar mengangkut hasil tangkapan.
Yulianto menceritakan sejak On The Rock beroperasi, penghasilan para pedagang jauh berkurang karena banyak wisatawan ragu untuk berkunjung ke Pantai Watu Bolong. Warung-warung kecil yang mulai masif berdiri sejak 2020 itu kini tak seramai dahulu. Selain itu, para pedagang juga dihantui kecemasan akan pengambilalihan lahan secara sepihak. Ketakutan ini diperparah dengan pembongkaran fasilitas umum secara diam-diam.
"Bangunan kamar mandi dan musala kecil yang kami bangun dari hasil iuran swadaya masyarakat dibongkar sepihak pada malam hari, saat sepi," kata Yulianto.







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5916792/original/069199100_1778815278-548845334_18142649845421517_5061483859199162001_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5936740/original/045917400_1778834043-Nova.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468954/original/033847700_1768037915-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5930742/original/008593800_1778828325-Gemini_Generated_Image_71yitq71yitq71yi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5399789/original/029438800_1762005007-Dewa_United_vs_Shan_United-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4912942/original/090478700_1723120672-Latihan_Timnas_Indonesia_U-17_3.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5945506/original/001671800_1778842464-WhatsApp_Image_2026-05-15_at_15.30.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5462119/original/028522100_1767506156-20260104AA_Persija_vs_Persijap-12.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9312520/original/061784600_1785502919-SaveInta.com_762864197_17983759941020020_4132949531562319994_n.jpg)
