Tafsir Al-Anbiya' 100-103: “Inna” Bima’na “Illa”

15 hours ago 6
Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie

Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.

Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Anbiya': 100-103. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.

100. Lahum fīhā zafīruw wa hum fīhā lā yasma‘ūn(a).

Mereka merintih dan menjerit di dalamnya (neraka) dan mereka di dalamnya tidak dapat mendengar (apa pun).

101. Innal-lażīna sabaqat lahum minnal-ḥusnā, ulā'ika ‘anhā mub‘adūn(a).

Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik untuk mereka dari Kami, mereka akan dijauhkan (dari neraka).

102. Lā yasma‘ūna ḥasīsahā, wa hum fīmasytahat anfusuhum khālidūn(a).

Mereka tidak mendengar bunyi desis (api neraka) dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka inginkan.

103. Lā yaḥzunuhumul-faza‘ul-akbaru wa tatalaqqāhumul-malā'ikah(tu), hāżā yaumukumul-lażī kuntum tū‘adūn(a).

Kejutan yang dahsyat (hari Kiamat) tidak membuat mereka sedih dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.”

TAFSIR

Yang biasa dan lazim dalam bahasa arab, kata “inna” adalah huruf taukid yang maknanya “sungguh”. Inna Musa – bi al-ams - hadlir, Sesungguhnya Musa - kemarin - datang. Sedangkan kata “ILLA” adalah huruf istitsna’, kata pengecualian bermakna “kecuali”. Al-thullab niyam illa Musa, semua santri tidur kecuali Musa.

Pada ayat kaji ini, “Inn al-ladzin sabaqat lahum minna al-husna”. Pertama, “inn” sebagai huruf taukid bermakna “sungguh” seperti yang dipahami kebanyakan ulama’, maka ayat ini adalah pernyataan yang berdiri sendiri (kalam mustaqill) tanpa kaitan dengan ayat sebelumnya.

Maka artinya: “sesungguhnya orang-orang yang dianugerahi al-husna, surga, dst...”.

Kedua, “inn” bermakna “Illa”, kecuali. Maka ayat ini dipahami sebagai masih sambungan dari ayat sebelumnya (99-100) yang menyatakan, bahwa mereka yang menyekutukan Tuhan masuk neraka bersama sesembahan mereka selamanya. Sangat pedih dan menjerit-jerit, KECUALI (inn) orang-orang yang dianugerahi al-husna ... dst.

Pendapat kedua ini tidak populer, akan tetapi al-imam Abu Abdillah al-qurthubi mengomentari, bahwa di dalam Alqur’an, hanya pada ayat ini saja, Inn bermakna illa, dan memang secara lughah bisa diterima. Sementara di lain tempat tidak dijumpai.

Sebagai perbandingan, bahwa selain “INN” bermakna “illa” adalah lafadh “LAMMA”, seperti pada “In kull nafs LAMMA ‘aliha hafidh” (al-Thariq: 4). Artinya, tiada satu pun manusia KECUALI ada malaikat penjaganya.

Padahal yang umum dalam bahasa arab, Lamma itu bermakna “ketika”, masuk deretan dharaf zaman, keterangan waktu. Allah a’lam.

Read Entire Article
Kabar berita |