Wartawan Senior Berbagi Cerita Soal Tindakan Represi Orba di Ruang Redaksi

23 hours ago 9

Wartawan Senior Berbagi Cerita Soal Tindakan Represi Orba di Ruang Redaksi

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Diskusi 30 Tahun Kudatuli di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (19/7). Source for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Mantan jurnalis harian Bernas Willy Pramudya membagikan catatan sejarah mengenai represi dan sensor media era Orde Baru (Orba).

Willy berbagi cerita itu dalam diskusi 30 Tahun Kudatuli di Kedai Tempo, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (19/7).

Willy menceritakan satu bentuk represi era Orba ialah larangan media untuk menulis nama Megawati Soekarnoputri.

"Kami tidak boleh, misalnya, menggunakan nama Megawati Soekarnoputri. Kami dikumpulkan di sebuah hotel berdekatan Tanah Abang sana, supaya kami menulisnya Megawati Taufiq Kiemas," kata dia dalam diskusi, Minggu.

Willy mengungkapkan ketatnya tekanan rezim Orba membuat media melakukan sensor mandiri (self-censorship), semisal memakai nama Megawati Taufiq Kiemas dalam tulisan.

"Kami tidak boleh, misalnya, menggunakan nama Megawati Soekarnoputri. Kami dikumpulkan di sebuah hotel berdekatan Tanah Abang sana, supaya kami menulisnya Megawati Taufiq Kiemas," ujarnha.

Selain kontrol diksi, Willy juga mengenang intimidasi harian yang dilakukan oleh pihak militer melalui Kapendam Jaya saat itu, Panggih. 

Menurutnya, aparat militer kerap mendatangi ruang redaksi untuk memeriksa komputer jurnalis secara langsung.

Wartawan senior menyebut bentuk represi era Orba terhadap media sampai ke level penulisan biar tak muncul nama Soekarno dalam naskah.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Kabar berita |