jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Perkembangan media sosial dinilai membuka ruang baru bagi upaya pelestarian seni dan budaya Indonesia.
Kreator konten tidak hanya dituntut menghasilkan konten yang menarik perhatian publik, tetapi juga bisa mengambil peran dalam mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda.
Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Kreator Konten Jawa Barat Abizar Machmud saat menghadiri pameran seni kontemporer MULASARA di Puri Agung Pemecutan, Bali.
Menurut Abizar, dunia digital memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan ruang pamer konvensional. Karena itu, seni dan budaya perlu ikut masuk ke ruang tersebut agar tidak semakin jauh dari generasi muda.
"Melalui publikasi dan penguatan narasi di media digital, semangat pelestarian tradisi ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas, inklusif, dan lintas generasi," ujar Abizar dalam keterangan tertulisnya kepada JPNN.com, dikutip Jumat (18/9/2026).
Dia menilai tantangan pelestarian budaya saat ini bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana membuat cerita tentang tradisi tersebut tetap menarik untuk dikonsumsi masyarakat.
Di titik itu, kreator konten dinilai dapat menjadi penghubung.
Konten mengenai seni, sejarah, tradisi, maupun kearifan lokal bisa dikemas dengan bahasa yang lebih dekat dengan pengguna media sosial. Dengan begitu, nilai budaya tidak hanya tersimpan dalam dokumentasi, tetapi terus diperkenalkan kepada publik.



















.jpeg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















