jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Selain ancaman erupsi gunung api, Indonesia juga dibayang-bayangi risiko besar gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik lempeng.
Guru Besar Ilmu Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa lempeng Indo-Australia terus bergerak menunjam ke bawah lempeng Eurasia dari kawasan Sumatra, Selat Sunda, Jawa, hingga wilayah timur Indonesia.
Hal itu membuat Indonesia rawan diguncang gempa berkekuatan besar atau megathrust.
Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu menegaskan bahwa zona subduksi megathrust memiliki karakteristik segmen yang berbeda-beda.
"Megathrust bisa diprediksi lokasinya. Spasial bisa diprediksi dari lokasinya. Namun, dari segi kapan (akan terjadi) itu tidak akurat. Jadi, waktunya yang tidak bisa diprediksi," kata Rita dalam forum Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk “Menghadapi Indonesia yang Rawan Bencana: Apakah Kebijakan-Kebijakan Kita Sudah Siap?” pada Rabu (9/9).
Terkait penerapan sistem Early Warning System (EWS) gempa bumi yang memberi jeda peringatan beberapa detik sebelum guncangan utama, Rita optimistis Indonesia mampu mengembangkannya.
Namun, tantangan utama terletak pada infrastruktur komunikasi pengirim data.
Uji coba sistem deteksi dini di Indonesia masih bergantung pada jaringan GSM.



















.jpeg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















