Cerita Mereka yang Menghidupi Keluarga dari Memindahkan Makam

3 hours ago 2

Kamis, 02 Juli 2026 – 10:55 WIB

Cerita Mereka yang Menghidupi Keluarga dari Memindahkan Makam - JPNN.com Jateng

Puluhan orang tergabung dalam tim pemindah makam. Mereka menjadi bagian penting dari relokasi ribuan makam yang tedampak pembangunan tol maupun kawasan industri. Foto: Dokumen pribadi Dwi Joko Yudho.

jateng.jpnn.com, SEMARANG - Ketika sebuah proyek pembangunan tol atau kawasan industri akan dibangun, ada pekerjaan yang harus diselesaikan lebih dulu sebelum alat berat mulai bekerja, yakni memindahkan makam yang berada di area terdampak pembangunan.

Di lokasi seperti itulah tanah merah kembali dibongkar. Cangkul demi cangkul menghunjam permukaan bumi yang selama puluhan tahun menjadi tempat peristirahatan seseorang. Di sekitar makam, keluarga berdiri menyaksikan dengan perasaan campur aduk. Ada yang memanjatkan doa, ada pula yang sesekali menyeka air mata saat proses pemindahan berlangsung.

Bagi sebagian orang, pekerjaan membongkar makam mungkin terdengar menyeramkan. Tidak sedikit yang membayangkan kisah-kisah mistis atau pengalaman yang membuat bulu kuduk merinding.

Namun, bagi Dwi Joko Yudho, pekerjaan itu justru menjadi bagian dari keseharian.

Hampir dua dekade, warga Semarang tersebut menggantungkan hidup dari profesi yang jarang dilirik banyak orang. Bersama puluhan rekannya, dia berpindah dari satu proyek ke proyek lain untuk memindahkan makam yang terdampak pembangunan tol, kawasan industri, kilang minyak, hingga berbagai proyek strategis nasional.

Nama mereka mungkin tak pernah muncul dalam peresmian jalan baru atau kawasan industri yang megah. Namun, sebelum proyek-proyek itu berdiri, ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan dengan memastikan ribuan makam direlokasi dengan layak ke tempat peristirahatan yang baru.

Pekerjaan itu tidak pernah direncanakan Dwi Joko sebagai profesi seumur hidup. Pada 2007, dia hanya diminta membantu proses relokasi makam yang terdampak pengembangan Kawasan Industri Candi di Semarang.

Dari pekerjaan pertama itulah jalan hidupnya berubah. Permintaan serupa terus berdatangan. Dari satu proyek ke proyek lain, kebutuhan relokasi makam makin meningkat seiring masifnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah.

Hampir 20 tahun Dwi Joko Yudho mencari nafkah dari pekerjaan yang tak banyak diminati orang.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News

Read Entire Article
Kabar berita |