jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9) di Istana Negara kembali mengocok ulang nakhoda bendahara negara.
Pergantian untuk kedua kalinya dalam Kabinet Merah Putih itu memicu pertanyaan besar, apakah Suahazil Nazara bisa mengatasi beban berat fiskal yang menghimpit Indonesia?
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Akhmad Akbar Susamto menegaskan bahwa persoalan fiskal Indonesia saat ini bersifat struktural, bukan sekadar urusan figur menteri.
Rekam jejak Suahasil yang panjang di Kementerian Keuangan dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) memang menjadi modal institusional yang kuat.
Namun, hal itu tidak otomatis menjadi obat mujarab untuk langsung menyembuhkan postur APBN.
Kredibilitas asumsi makro ekonomi menjadi tantangan pertama yang harus segera dibenahi Suahasil.
Menurut Akbar, saat ini APBN mengalami tekanan hebat akibat beberapa asumsi dasar yang meleset jauh dari kondisi aktual pasar.
Pergerakan rupiah menembus di atas asumsi Rp 16.500 per dolar AS, harga minyak mentah melonjak melampaui asumsi target APBN, dan utang pemerintah telah melampaui Rp 10.294 triliun dengan beban pembayaran bunga utang mencapai Rp 599 triliun per tahun.



















.jpeg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















