jateng.jpnn.com, SEMARANG - Fenomena warga yang mengusulkan pembaruan data masuk desil 1 sampai 4 agar menerima bantuan sosial (bansos) dinilai perlu dilihat dari perspektif sosial dan budaya.
Antropolog Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Nugroho Trisnu Brata mengatakan kondisi itu dapat berkaitan dengan konsep kemiskinan kultural, selain persoalan kemiskinan struktural.
Kemiskinan struktural seringkali tercipta akibat kesalahan negara dalam membuat kebijakan terhadap masyarakat. Dalam pelaksanaannya, masyarakat terjebak pada kemiskinan.
Sementara itu, kemiskinan kultural dipengaruhi oleh nilai-nilai, budaya yang menyulitkan masyarakat keluar dari jeratan kemelaratan.
Dalam perspektifnya, tren masyarakat yang ingin masuk dalam kelompok desil 1 hingga 4 karena ada nilai-nilai yang membuat mereka tidak malu menggolongkan dirinya ke dalam kategori miskin.
“Orientasinya dapat bantuan dari pemerintah karena dianggap sebagai miskin ekstrem, atau miskin, atau ambang kemiskinan, atau rentan miskin. Bisa jadi, itu karena pengaruh dari budaya kemiskinan,” kata Trisnu kepada JPNN.com, Kamis (17/9).
Menurutnya, persoalan arah masyarakat yang ingin mengincar bantuan terletak pada kerangka berpikir yang dihinggapi mental miskin.
Keinginan untuk mendapatkan bantuan dengan mengategorikan diri sebagai orang miskin tidak selalu muncul dari orang yang benar-benar miskin.



















.jpeg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















