jpnn.com, JAKARTA - Kondisi perekonomian Indonesia saat ini tetap tumbuh kuat dan relatif stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% (year-on-year), ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang solid, percepatan belanja pemerintah, peningkatan investasi, serta pemulihan sektor manufaktur.
Stabilitas makroekonomi juga masih terjaga dengan inflasi yang terkendali di sekitar 3%, surplus neraca perdagangan yang berlanjut, cadangan devisa yang kuat, dan tingkat pengangguran yang menurun. Pemerintah juga terus mendorong investasi, hilirisasi industri, dan perluasan akses pasar global untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Namun demikian, di balik kinerja yang positif tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan yang berasal dari eksternal maupun domestik. Dinamika global akibat tensi geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, volatilitas harga komoditas, serta tekanan terhadap nilai tukar Rupiah meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi ke depan.
Bagi masyarakat, khususnya segmen affluent dan high-net-worth (HNW) yang memiliki gaya hidup global di mana pengeluaran tidak hanya dalam rupiah, namun juga kurs global lainnya, dinamika ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan kekayaan (wealth management) harus lebih disiplin, terdiversifikasi, dan disesuaikan dengan risiko global yang sedang meningkat.
Saat ini, diperlukan strategi yang tepat untuk mengelola berbagai aset yang dimiliki, guna memastikan rencana dan tujuan jangka panjang mereka tetap berjalan sesuai kebutuhan gaya hidup global mereka, termasuk alokasi dana pendidikan di luar negeri, mobilitas internasional, layanan kesehatan mancanegara, hingga perencanaan warisan lintas generasi yang tetap terpenuhi.
Di tengah dinamika ekonomi saat ini, kepemilikan aset dan perlindungan dalam dolar Amerika Serikat (USD) menjadi semakin relevan untuk membantu menjaga nilai aset, mengurangi risiko fluktuasi mata uang, serta memberikan kepastian finansial terhadap kebutuhan masa depan yang banyak dipengaruhi oleh mata uang global.
Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia Priskilla Fachruddin menjelaskan hasil survei sampel kecil yang dilakukan terhadap sejumlah nasabah segmen kelas menengah-atas hingga individu HNW menunjukkan adanya kecemasan yang cukup kuat terhadap kemampuan mereka menjaga nilai kekayaan di tengah risiko pelemahan rupiah.































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518312/original/099191500_1772505014-persebaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547080/original/023840800_1775443474-1000826480.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5536828/original/015894100_1774345041-20260324IQ_Latihan_Timnas_Indonesia_FIFA_Series-3.jpg.jpeg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364338/original/054791800_1759066919-Borneo_FC_1.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5518239/original/013028600_1772493872-Latihan_Persija-8.jpg)