jpnn.com, JAKARTA - Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menekankan permasalahan pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) bukan sekadar perkara Rp 1 triliun per tahun.
Nur Hidayat menyadari nilai Rp 1 triliun per tahun relatif kecil jika dibandingkan dengan kemampuan fiskal negara.
Akan tetapi, dia menegaskan pertanyaannya bukan mengenai mampu atau tidak mampu, melainkan apakah negara memang harus membayar utang tersebut.
"Tenor 80 tahun tidak membuat utang menjadi murah," kata Nur Hidayat dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu (12/9).
Nur Hidayat menyatakan perpanjangan tenor pembiayaan utang Whoosh hanya menyebarkan beban keuangan kepada lebih banyak generasi.
Hal ini berarti generasi yang tidak pernah ikut menentukan proyek Whoosh berpotensi ikut menanggung konsekuensi keputusan investasi tersebut.
"Anak yang lahir bahkan dapat memasuki usia pensiun sebelum kewajiban tersebut selesai," ujarnya.
Nur Hidayat menilai pengalihan kewajiban kepada SMI atau INA yang dianggap bukan beban pemerintah karena tidak langsung dibayar melalui pos APBN merupakan hal yang problematik.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)













