jpnn.com, JAKARTA - Nasib sekitar enam juta orang dalam mata rantai industri hasil tembakau dinilai terancam apabila aturan turunan PP 28 Tahun 2024 diterapkan tanpa mempertimbangkan karakter tembakau lokal dan kondisi ekonomi petani.
Kekhawatiran utama petani adalah menurunnya kebutuhan industri terhadap hasil panen dalam negeri akibat rencana pembatasan kadar tar dan nikotin pada produk tembakau.
Ketentuan tersebut dinilai tidak sesuai dengan karakter alami sejumlah varietas tembakau yang dibudidayakan di Indonesia.
Pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia, Yudha Sudarmaji mengatakan pembatasan terhadap industri hasil tembakau berpotensi berdampak langsung pada daya serap pabrik terhadap bahan baku lokal.
“Yang paling kami khawatirkan adalah berkurangnya serapan tembakau petani. Kalau industri tidak lagi membutuhkan tembakau dengan karakter seperti yang dihasilkan petani lokal, maka hasil panen tidak akan terbeli,” ujar Yudha dalam keterangannya dikutip, Selasa (28/7).
Ia juga mengkhawatirkan industri akan beralih menggunakan tembakau impor yang dianggap lebih sesuai dengan ketentuan baru. Kondisi tersebut dinilai dapat semakin mempersempit pasar bagi hasil panen petani dalam negeri.
Menurut Yudha, ekosistem hasil tembakau di Indonesia melibatkan sekitar enam juta orang, mulai dari petani, buruh tani, pekerja pengolahan, tenaga distribusi, hingga pekerja pabrik.
Karena itu, APTI meminta pemerintah mengkaji kembali aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 sebelum diberlakukan. Pemerintah juga didesak membuka ruang dialog dengan petani, pekerja, serta pelaku industri hasil tembakau.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547080/original/023840800_1775443474-1000826480.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546952/original/044881700_1775395921-bfc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470992/original/006839600_1768273022-cremonese.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546978/original/025654500_1775399103-WhatsApp_Image_2026-04-05_at_19.51.29.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5542804/original/067279900_1774959975-Elkan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541752/original/079844000_1774890887-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390134/original/058928300_1761231698-teja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5484120/original/030378900_1769413889-20260126AA_Konferensi_Pers_AFC_Futsal-06.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124725/original/012562100_1738900750-Snapinst.app_469631839_1277354356876290_8996091991068552124_n_1080.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4846449/original/071327300_1716970316-083A1107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348128/original/056093900_1757768912-Persijap-Fokus-Penuh-Tatap-Laga-Lawan-Arema-FC-1756347109.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5557734/original/067491600_1776389960-20260416IQ_Timnas_Indonesia_U-17_vs_Malaysia_U-17-01.jpg)
