jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Angkatan kerja muda Indonesia kini tengah menghadapi tantangan berat di pasar kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 mengungkap bahwa dari total 7,22 juta penganggur di tanah air, 67 persen atau sekitar 4,8 juta orang di antaranya didominasi oleh kelompok usia muda, termasuk para lulusan perguruan tinggi atau sarjana.
Kondisi tersebut mendapat perhatian khusus dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Muhammad Jusuf Kalla.
Saat menghadiri Pelantikan Kepengurusan PMI DIY 2026–2031 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Jusuf Kalla menegaskan bahwa fenomena tingginya pengangguran terpelajar terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan lulusan dan penyerapan tenaga kerja.
"Ada dua hal kalau banyak sarjana menganggur. Artinya, supply lebih besar daripada demand," tegas Jusuf Kalla, Minggu (13/9).
Ia menyoroti produksi lulusan yang mencapai sekitar satu juta sarjana setiap tahunnya, sementara jumlah lapangan kerja yang tercipta amat terbatas.
Akibatnya, tak sedikit lulusan tinggi yang terpaksa mengambil pekerjaan jauh di bawah potensi mereka.
Guna mengatasi persoalan ini, Jusuf Kalla mendorong perguruan tinggi agar tidak sekadar mendongkrak jumlah lulusan, tetapi juga berfokus pada peningkatan mutu dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
"Perlu ada suatu cara untuk meningkatkan kualitas. Tidak asal selesai (lulus) bagi sarjana, tetapi kepada perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas," katanya.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















