jpnn.com, JAKARTA - Ada perubahan besar yang berlangsung tanpa selalu disadari manusia. Teknologi tidak lagi sekadar membantu manusia bekerja, berkomunikasi, dan memperoleh informasi, tetapi mulai memengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, membangun relasi, memahami kebenaran, bahkan memandang dirinya sendiri.
Kecerdasan buatan (AI), algoritma, media sosial, deepfake, dan pengolahan data membawa teknologi makin jauh ke ruang kehidupan manusia. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar apakah teknologi bermanfaat, melainkan apakah manusia masih mampu mengendalikan arah perubahan yang diciptakannya sendiri.
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika Nahdlatul Ulama bersiap memasuki Muktamar ke-35 pada 27–31 Agustus 2026. Muktamar bukan hanya forum organisasi dan kepemimpinan, tetapi dapat menjadi momentum merumuskan respons NU terhadap perubahan peradaban yang ditandai perkembangan AI.
Jika Data, Dosa dan Dunia Digital bertanya apa yang teknologi lakukan terhadap kehidupan moral manusia, maka Ketika Teknologi Mulai Mengubah Manusia membawa pertanyaan itu lebih jauh: apa yang harus dilakukan agama ketika teknologi mulai menyentuh batas definisi manusia itu sendiri?
Teknologi tidak lagi sekadar alat
Pada awalnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia. Mesin menggantikan tenaga fisik, komputer mempercepat pekerjaan, internet memperpendek jarak, dan telepon pintar membuat komunikasi berlangsung hampir tanpa batas. Hubungan manusia dengan teknologi tampak sederhana: manusia menciptakan, menggunakan, sekaligus mengendalikan.
Namun, perkembangan AI membuat hubungan tersebut semakin kompleks. Mesin kini tidak hanya mengerjakan pekerjaan fisik, tetapi memasuki wilayah yang selama ini dianggap sebagai kemampuan khas manusia, seperti menulis, menerjemahkan, menggambar, menganalisis, dan memberikan rekomendasi.
Filsuf teknologi Ibo van de Poel, dalam kajiannya pada 2020, menjelaskan bahwa hubungan teknologi dan masyarakat tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai hubungan manusia yang mengendalikan teknologi. Melalui perspektif co-evolutionary, teknologi dan masyarakat saling membentuk dan berkembang bersama.


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















