jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Fenomena el nino yang memicu kenaikan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur terus menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, dampaknya ternyata tidak merata di seluruh daerah.
Dosen Teknik Geofisika UPN Veteran Yogyakarta Suharsono menjelaskan wilayah di selatan garis ekuator memiliki risiko terdampak lebih parah.
"Wilayah di selatan garis ekuator, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur diprediksi berpotensi mengalami dampak lebih kering," ungkap Suharsono.
Sebaliknya, wilayah yang berada di utara garis ekuator masih memiliki peluang diguyur hujan, meskipun dengan curah hujan yang cenderung di bawah rata-rata tahunan.
Guna meminimalisasi potensi kerugian dan ancaman kesehatan akibat kekeringan ekstrem ini, Suharsono membagikan sejumlah langkah antisipasi yang dapat diterapkan masyarakat.
Pertama, masyarakat diimbau keras untuk menghentikan kegiatan yang memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan di area terbuka.
Kedua, penghematan air bersih harus menjadi prioritas harian selama siklus El Nino berlangsung.
Ketiga, daerah yang memiliki surplus pasokan air diharapkan dapat membantu wilayah tetangga yang krisis.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















