Soal Mandatori B50, Pengamat Wanti-Wanti Jangan Ada Pembabatan Hutan

3 weeks ago 24

Soal Mandatori B50, Pengamat Wanti-Wanti Jangan Ada Pembabatan Hutan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Implementasi mandatori B50 tidak boleh menimbulkan krisis pangan dan babat hutan. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menyoroti potensi implementasi mandatori penggunaan B50 yang dapat menimbulkan trade off kebutuhan crude palm oil (CPO) lintas sektor, baik energi, pangan dan ekspor.

Menurut Fahmy, tantangan alokasi ini memerlukan perhatian serius agar peningkatan penggunaan minyak sawit untuk bahan bakar tidak mengorbankan kebutuhan domestik lainnya.

Dia mengingatkan sebelumnya, trade off pangan dan ekspor kerap menyebabkan krisis minyak goreng dalam negeri.

Pada saat harga dunia minyak sawit menjulang tinggi, pengusaha CPO lebih mendahulukan ekspor untuk memperbesar cuan ketimbang memasok untuk bahan baku Minyak Goreng.

"Dampaknya, terjadi krisis pasokan CPO yang mendongkrak harga minyak goreng," kata Fahmy dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (2/7).

Oleh sebab itu, Fahmy menekankan pemerintah harus mitigasi adanya tambahan permintaaan CPO untuk energi.

Upaya mitigasi tersebut dinilai mendesak karena berpotensi menyebabkan krisis minyak goreng mendatang lebih besar dibanding sebelumnya.

Fahmy menambahkan peningkatan permintaan CPO untuk kebutuhan energi, pangan dan ekspor memang bisa dilakukan dengan meningkatkan produksi CPO melalui perluasan tanaman Kelapa Sawit.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menekankan implementasi mandatori B50 tidak boleh menimbulkan krisis pangan dan babat hutan,

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Kabar berita |