jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas vulkanis Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah masih tergolong tinggi.
Berdasarkan pengamatan pada Selasa (22/9/2026), teramati puluhan kali gempa guguran serta belasan kali guguran lava pijar yang mengarah ke sektor barat daya.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menjelaskan status Gunung Merapi hingga saat ini masih dipertahankan pada Level III (Siaga) mengingat suplai magma dari dalam perut bumi yang terus berlangsung.
"Berdasarkan hasil pemantauan berkala kami selama periode 22 September 2026, suplai magma masih terus terjadi. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran (APG) di dalam wilayah potensi bahaya yang sudah kami petakan," ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/9).
Selama kurun waktu 24 jam pengamatan, BPPTKG merekam terjadinya 17 kali guguran lava yang meluncur ke arah Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak.
Jarak luncur maksimum guguran material tersebut mencapai 1.900 meter dari puncak.
Secara visual, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi mencapai 25 meter di atas puncak kawah.
Dari sisi kegempaan, tercatat sebanyak 92 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–19 mm dan durasi 30,62–177,92 detik.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















