jogja.jpnn.com, BANTUL - Selain terkenal dengan kesenian dan wisata alamnya, Kabupaten Bantul, DIY, juga memiliki destinasi agrowisata dan wisata edukasi unggulan, yaitu Pabrik Gula Madukismo.
Sejak mulai dibuka untuk umum pada 1997, objek wisata ini menawarkan pengalaman unik bagi masyarakat untuk mempelajari proses pengolahan tebu menjadi kristal gula sekaligus mengenal nilai-nilai sejarahnya.
Dalam kegiatan edukasi tersebut, para wisatawan diajak menyusuri kawasan pabrik menggunakan lori atau kereta tebu tradisional yang dahulu digunakan sebagai angkutan hasil panen.
Pengunjung dapat menyaksikan secara langsung mesin-mesin produksi raksasa asal Jerman yang beroperasi sejak tahun 1955, lengkap dengan aktivitas para pegawainya.
Kawasan ini menaungi dua fasilitas pengolahan utama, yaitu pabrik gula serta pabrik pembuat alkohol medis dan farmasi.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo Mahmud Safrudi mengatakan pabrik ini didirikan atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menggantikan 17 pabrik gula di Yogyakarta yang hancur pascaperang, sekaligus menyerap kembali para tenaga kerjanya.
"Kapasitas awal Pabrik Gula Madukismo relatif kecil, hanya 1.500 Ton Cane per Day (TCD), yang kemudian berkembang hingga saat ini menjadi 3.500 TCD. Kami mempunyai target kurang lebih 250 ton produksi gula per hari," ujar Mahmud.
Untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban alur kunjungan, pengelola menerapkan sistem reservasi terlebih dahulu.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)










