jpnn.com, JAKARTA - Ekonom dari Universitas Negeri Manado (Unima) Dr. Robert R. Winerungan menilai keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menahan harga BBM bersubsidi sangat tepat.
Sebab, kenaikan harga BBM akan memberikan efek berantai terhadap ongkos transportasi hingga harga berbagai barang kebutuhan masyarakat.
"Saya kira itu keputusan yang sangat bijak, karena apabila harga Pertalite naik, maka inflasi bisa tidak terkendali," kata Robert, Selasa (15/9)
Dia menyebutkan intervensi melalui kebijakan harga diperlukan karena Pertalite dikonsumsi luas oleh masyarakat, sehingga perubahan harganya berpotensi memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi.
"Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat," kata Robert.
Ia mengakui mempertahankan harga Pertalite Rp 10.000 per liter ketika harga minyak dunia sudah tebus USD 107 per barel akan memberikan konsekuensi terhadap APBN. Selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya meningkatkan beban yang harus ditanggung pemerintah.
"Memang subsidi bisa membengkak. Tetapi manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan," ujarnya.
Menurut Robert, tekanan ekonomi saat ini bahkan mulai mengubah pola konsumsi BBM sebagian kelompok masyarakat.







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)













