jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Fenomena krisis kesehatan mental di kalangan mahasiswa kian menuntut perhatian serius dari institusi pendidikan tinggi.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 720.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia.
Bahkan, pada 2021 bunuh diri tercatat sebagai penyebab kematian terbesar ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun.
Tren ini juga tercermin di Indonesia, di mana angka kasus bunuh diri menembus lebih dari 1.000 kasus sepanjang 2025.
Merespons tantangan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan pentingnya penguatan resiliensi serta pembentukan lingkungan kampus yang aman dan mendukung.
Hal itu mengemuka dalam seminar nasional bertajuk “Pencegahan Bunuh Diri, Penguatan Resiliensi, dan Sistem Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi” yang diselenggarakan di Ruang Multimedia 1 Gedung Pusat UGM, Sabtu (19/9).
Ketua Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM) UGM Restu Tri Handoyo mengatakan pendekatan pencegahan tidak bisa ditunda hingga seseorang berada dalam kondisi krisis.
Bunuh diri dipicu oleh interaksi kompleks berbagai faktor risiko, seperti tekanan ekonomi, konflik keluarga, relasi sosial, dan kerentanan individu.


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















