jpnn.com, JAKARTA - Industri skincare di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan kulit. Media sosial turut mempercepat perubahan tersebut dengan membuat informasi mengenai produk kecantikan semakin mudah diakses.
Skincare kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai produk kecantikan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan rutinitas sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.
TikTok menjadi salah satu platform yang berperan besar dalam perubahan perilaku konsumen. Melalui media sosial, masyarakat dapat menemukan informasi mengenai serum, moisturizer, sunscreen, toner, hingga berbagai kandungan aktif dalam produk skincare.
Namun, tingginya arus informasi juga menuntut konsumen lebih kritis. Produk yang viral belum tentu cocok untuk semua orang karena kondisi kulit, usia, kandungan, cara penggunaan, hingga legalitas produk tetap perlu diperhatikan.
Perubahan tersebut turut membuka peluang bagi brand skincare lokal, termasuk Fallin Beauty, untuk memperluas jangkauan melalui kanal digital dan membangun komunikasi langsung dengan konsumen.
Seperti yang dilakukan Fallin Beauty yang dimiliki Dafiq Imam Maulidi, pengusaha asal Pamekasan, Madura. Brand tersebut memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok melalui akun @owner.fallin.beauty, untuk memperkenalkan produk dan sosok di balik bisnisnya.
Kehadiran pemilik brand di media sosial menjadi bagian dari strategi komunikasi yang semakin lazim.
"Konsumen tidak hanya mengenal produk, tetapi juga dapat melihat identitas, aktivitas, dan visi bisnis yang dibangun," kata Dafiq, Kamis (10/9).






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















