jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Pengelolaan dana sosial selama ini masih banyak mengandalkan kampanye dan penggalangan donasi secara berulang.
Pola tersebut dinilai menyimpan tantangan ketika program sosial membutuhkan pendanaan dalam jangka panjang.
Berangkat dari persoalan itu, Rumah Wakaf, Rumah Zakat, dan SharingHappiness menghadirkan Indonesia Endowment Ecosystem, sebuah infrastruktur kolaborasi berbasis wakaf yang mendorong dana sosial berkembang menjadi aset produktif.
Melalui model tersebut, dana yang dihimpun tidak seluruhnya langsung dibelanjakan untuk program sosial. Sebagian dikelola sebagai aset produktif sehingga hasil pengelolaannya dapat digunakan untuk membiayai program sosial secara keseluruhan.
Chairman Indonesai Endowment Ecosystem sekaligus CEO Rumah Wakaf Rendi Septiyan Nugraha mengatakan model tersebut diharapkan mengubah paradigma filantropi dari sekadar menghimpun dana menjadi membangun aset yang mampu menopang program sosial dalam jangka panjang.
"Pengembangan ekosistem ini diarahkan untuk mendorong perubahan paradigma dalam filontropi, dari sekadar menghimpun dana menjadi membangun aset produktif yang dapat menopang program sosial dalam jangka panjang," kata Rendi dalam keterangannya, Kamis (10/9).
Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan prinsip wakaf yang menjadikan aset sebagai sumber manfaat lintas generasi.
Dalam Indonesia Endowment Ecosystem, aset wakaf menjadi fondasi dana abadi. Aset tersebut kemudian dikelola secara produktif untuk menghasilkan nilai manfaat, sedangkan hasilnya menjadi sumber pembiayaan berbagai program sosial.



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)















