jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dari Indeks Data Nasional Ayip Tayana berharap isu September Hitam di media sosial tidak berkembang menjadi mobilisasi massa berbasis kebencian.
"Fenomena September Hitam ini secara umum bagian dari aktivisme digital yang positif sebagai pengingat kolektif publik. Tetapi jangan sampai berubah menjadi mobilisasi emosi," kata Ayip kepada awak media, Minggu (13/9).
Ayip mengatakan demonstrasi terkait isu pelanggaran HAM yang diwacanakan ketika membangun September Hitam, sebenarnya sah-sah saja sebagai bagian dari demokrasi.
Namun, Ayip mempertanyakan soal demonstrasi menjadi satu-satunya jalan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu.
"Demonstrasi terkait September Hitam bagian dari demokrasi. Namun pertanyannya, apakah demonstrasi hanya satu-satunya jalan untuk mendorong penyelesaian persoalan, di sini mahasiswa dan masyarakat sipil perlu evaluasi," ujar Ayip.
Sebab, kata dia, saat ini negara sudah menempuh upaya progresif menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu.
Misalnya, pemerintah mengakui 12 pelanggaran HAM berat masa lalu dan berkomitmen melakukan pemulihan terhadap korban.
Ayip melihat mahasiswa seharusnya sudah naik kelas. Tidak lagi menuntut negara mengakui pelanggaran HAM, melainkan memberikan solusi konkret.








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336719/original/051438800_1788172676-HRCrz20bcAAiPa6.jpg)













